Jumat, 12 Oktober 2012

Kisah Semut Kecil (Part 1)-11 Mei 2012


Hargailah temanmu dengan kebaikan
suatu ketika aku berjalan di sebuah tempat, entah ku sebut apa tempat itu, disana ada banyak orang yang mengenakan seragam putih coklat, yang perempuan menggunakan penutup kepala, yang laki-laki tidak, tapi ada beberapa perempuan yang tidak menggunakan penutup kepala itu banyak pula yang menggunakan baju coklat-coklat. aku hanya diam memandangi mereka, ada yang tertawa, ada yang sedang berdua, menurut ku mereka adalah jantan dan betina, ya tapi orang itu menyebutnya mereka laki-laki dan perempuan, ada pula yang menonton TV.
Aku berjalan dan terus berjalan sambil menghindari langkah kaki yang besarnya beragam, mereka berkata “awas ada semut!” dan tertawa. Padahal disana memang benar-benar ada aku. Aku masih gak ngerti kenapa mereka begitu senang, sedang di sebuah tempat kulihat seorang anak perempuan dengan baik bertanya pada temannya, “ada apa sih? boleh tau gak? ntar cerita ya!” tapi apa respon temannya, mereka justru menyembunyikan dari dia. Dia lalu memilih duduk diam. Aku bingung kenapa orang-orang selalu begitu. Apa mereka tidak mengerti yang dirasakan anak itu. Lalu aku memilih untuk naik ke sepatunya, tiba-tiba aku merasakan hawa aneh. Mereka menyebutnya emosi atau dalam bahasa yang sering mereka gunakan itu artinya “nyesek” ya sedikit-sedikit aku mulai mengerti bahasa mereka semenjak aku ketempat ini. Lalu anak itu berjalan menuju sebuah ruangan, di ruangan itu ada tempat untuk duduk. Semua anak di ruangan itu memiliki teman mengobrol kecuali dia. Aku makin kasihan melihatnya. Tiba-tiba ia berkata dengan sangat pelan “ntar juga gua tau apa yang mereka omongin, termasuk masalah yang waktu itu. gua emang gak punya sahabat, temen gua gitu semua capek guanya. Menurut mereka digituin sih biasa aja, tapi menurut gua itu sakit, heh lo semua suatu saat bakalan dapet kok balasannya! tapi bukan sekarang, yang pasti.” lalu anak perempuan itu duduk memandangi sebuat papan berwarna merah tetapi bukan merah, pink juga bukan, ya intinya merah dengan pertambahan sedikit putih. Ia juga mulai menyiapkan entah barang apa yang jelas orang-orang itu menyebutnya ‘alat-alat ujian’ aku masih belum belajar tentang itu. Aku pun berusaha naik ke meja nya.
Saat ku perhatikan semua temannya baru masuk ke ruangan itu disertai orang yang bertubuh lebih besar dari mereka semua yang membawa kertas yang dibagikan satu per satu pada anak-anak itu. Semua mengerjakan, tapi awalnya tertib, saat anak lain sudah mulai bertanya anak perempuan itu justru diam. Ketika ku perhatikan ternyata dia mengantuk dan tidur selama beberapa menit. Hingga kurang lebih 1 jam aku baru mendengar teman disampingnya bertanya. Ia pun menjawab, hingga ia bangun dan mengumpulkan kertas itu pada orang besar di depan papan raksasa berwarna putih, yang mereka sebut papan tulis.
Anak itu pun pulang, aku tetap mengikutinya di papan merah yang ia bawa tadi. Tiba-tiba temannya menariknya, “hey ayo anterin” ternyata itu temannya yang tadi menyembunyikan rahasia. Tapi apa ekspresi anak perempuan itu, dia hanya mengangguk. Aku heran, anak itu terlihat biasa saja justru dia malah tersenyum melihat temannya. Lalu ia ditinggalkan begitu saja. Hingga bertemu teman-temannya dan mulai bisa bercanda lagi.
Sebenarnya tempat apa ini? Tempat ini dipenuhi ketidak adilan. Terutama untuk anak perempuan itu. Sayang baru sekarang aku mengikutinya coba dari dulu mungkin banyak cerita yang akan ku dapat. Ada satu hal yang ingin aku beritahu kepada kalian, hargailah teman kalian bukan karena harta, kecantikan atau kepandaiannya, hargailah dia karena dia itu teman. Tapi hargailah bukan dengan uang tapi dengan kebaikan. Oh iya, Tanpa kamu ketahui teman disekitarmu itu sesungguhnya kesal denganmu, tapi mereka tidak pernah membicarakan itu, dan sekarang jika kamu kesal dengan temanmu atau melihat temanmu salah sedikit apa yang kamu lakukan? kamu marah! tapi lihat teman sekitar mu, jika kamu salah sedikit apa mereka marah? ya beberapa marah tapi lainnya tidak, sama seperti anak perempuan tadi, dia sering berkata “hidup ini memang tidak adil ya, coba aku bisa lebih baik dan lebih adil, pasti hidup ini menyenangkan”.
Untuk semua yang membaca cerita ini ini plis, hargai teman kalian dengan kebaikan.
dibuat oleh :
Semut kecil yang selalu tersenyum,
Icca Ratna Danila (11 Mei 2012)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar